TAKAT PROTAGONIS III

ㅤㅤ
          
Takat protagonis III: Serangan maut. 



Langit sore Jakarta memang tidak seindah yang dilihat, bahkan masih terselimuti oleh kabut polusi. Namun Kareenina senang bila menikmatinya di tengah kegiatan pengambilan adegan film miliknya.

"Mbak Nina, 10 menit lagi kita mulai ya!" ujar salah satu crew yang tampak lebih muda daripada dia.

"Aku mau godain bang ojek yang di sana dulu boleh nggak?"

"Koplak!"

Kareenina mendengus melihat sahutan Methara yang memasang muka sinis, crew tersebut hanya tersenyum kaku sembari memutar balik arah kembali ke tempat semula dan mempersiapkan pemeran lainnya.

Merasa masih ada waktu sebelum syuting dimulai, Kareenina kembali memungut naskah untuk mengulang bagiannya. Seseorang datang lalu menyambar naskah itu dengan kasar sehingga konsentrasi Kareenina pecah begitu saja.

"Tumben lo serius banget liat naskah?" tanya Ravon remeh. Kareenina memutar bola matanya malas, bangkit dari duduknya dan ingin merenggut naskah miliknya, "balikin atau pas pulang lo udah berubah wujud jadi Voldemort." Ravon hanya mengangkat bahunya acuh dan menyembunyikan naskah di punggungnya. 

Sebelum Kareenina melawan, Genta sudah meneriakkan namanya dan Ravon agar segera mengambil posisi. "Tuh, yang profesional ya mainnya." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya sembari meletakkan kembali naskah milik Kareenina. 

"Pernah nggak sih, lo dikedipin sama walang sangit?" batinnya pada diri sendiri, membayangkannya saja sudah membuatnya geli. Lantas gadis itu bergegas untuk melakukan proses syuting sebelum Hulk atau nama lainnya Genta membantingnya hingga terbang ke udara. 


                                       ❏ ❏ ❏


"3 ... 2 ... Action!!"

Lampu kamera menyala di segala sisi, Kareenina telah memasang ekspresi yang cocok setelah ia melakukan latihan tadi, "kam—"

DUAARRR!! 

Kareenina melongo ke atas ketika petir mulai menyapa mereka. Genta kesal sambil melihat ponselnya, "ramalan cuaca lagi baik padahal, kok aneh, sih." Genta menyuruh semua crew untuk kembali ke tempat break dan menundanya. "Cihuy cimemew langit aja nggak merestui," batin Kareenina sambil senyum-senyum sendiri.

Semua diistirahatkan dan dijadwal ulang bahwa akan melakukan syuting ulang di luar ruangan besok. Untung saja sudah mengambil adegan sebelumnya di dalam ruangan, Methara bersiap untuk membawa semua barang milik Kareenina dan pulang ke rumah karena gadis itu enggan menginap.

Di sisi lain, Kareenina ingin mengambil sepatu haknya yang tertinggal di belakang rumah tempat ia melakukan syuting. Saat menemukannya, Kareenina terkejut ketika seseorang memeluknya dari belakang. 

Kareenina menelan ludahnya pelan. Tak ingin langsung menoleh, ia membuka kotak sepatunya dan mengambil sebelah sepatu untuk melakukan antisipasi. Baginya tidak masalah, jangan panik karena ia perempuan yang berani. 

"Satu ... dua ... " Kareenina memutar dirinya dan menemukan seorang lelaki yang menutup mata dan masih melingkarkan tangannya di pinggang Kareenina. Reflek ia memukul pria itu dengan sepatunya keras. 

"Aduh sakit, woy. Ssst diem dulu napa?!" Lelaki yang masih memeluknya itu tidak ingin membuka matanya dan membuat Kareenina semakin takut. 

"BRENGSEK GUE DIPEGANG SAMA MUCIKARI, METHA TOLONGIN GUE."





#STERTORA — Regards, ©#SIREN 2020.                                       

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKAT PROTAGONIS I

TAKAT PROTAGONIS II